Gangguan Operasi Hambat Peningkatan Produksi

February 2, 2012

Jakarta – Gangguan operasi yang dialami kontraktor kontrak kerja sama (KKS) migas menghambat upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi tahun 2012. Menurut Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BPMIGAS, Gde Pradnyana, gangguan telah marak terjadi sejak awal tahun ini.

Dia mencontohkan, berhentinya produksi Sele Raya di blok Merangin Dua, lapangan Tampi, sebesar 1.300 barel per hari sejak 23 Januari 2012 lalu. “Saat ini produksinya hanya 80 barel per hari,” katanya di Jakarta, Rabu (1/2).

Produksi Sele Raya terhenti seiring keluarnya surat Bupati Musi Rawas yang memerintahkan penghentian pengangkutan minyak mentah menggunakan truk tangki sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dalam suratnya tersebut, secara sepihak, pemerintah kabupaten Musi Rawas membatalkan perjanjian kerja sama pemanfaatan jalan untuk pengangkutan minyak mentah antara pemerintah Musi Rawas dengan Sele Raya.

Tidak hanya Sele Raya, terjadi demo buruh di kantor dan fasilitas produksi Chevron di Minas dan Rumbai, Riau. Hal serupa dialami Santos di Sampang dan Sumenep, Madura yang di demo nelayan. “Tidak hanya menghambat produksi, kendala-kendala tersebut juga membuat ketidakpastian investasi,” katanya.

Dia mengungkapkan, Sumatera Bagian Selatan tercatat sebagai daerah yang paling banyak mengalami gangguan operasional seperti pencurian, vandalisme, premanisme, demo, hingga kebocoran pipa. Tahun 2011 tercatat 346 gangguan terjadi di Sumatera Selatan. “Data tersebut berdasarkan laporan yang diterima BPMIGAS. Tidak menutup kemungkinan ada gangguan yang tidak dilaporkan,” katanya.

Masalah yang paling menonjol di Sumatera Bagian Selatan adalah pencurian minyak mentah. Kontraktor kontrak kerja sama yang sering melaporkan kejadian pencurian minyak, antara lain Pertamina EP, Medco E&P (Rimau), ConocoPhillips (Grissik), dan UBEP Jambi. “Kehilangan minyak yang tercatat di tahun 2011 sekitar 3.000 barel, tapi kami yakin jumlahnya jauh lebih besar dari angka itu,” kata dia.

Gde mengakui, gangguan operasional berkontribusi pada penurunan produksi migas. “Faktor non teknis menyumbang 60 persen penyebab turunnya produksi,” katanya. Oleh karena itu, dia mengajak semua pihak terkait bekerja sama mengurangi gangguan operasional yang dihadapi kontraktor di lapangan. (ACU)